Langsung ke konten utama

Konsep Sehat dan Sakit dalam Timbangan Islam



Konsep Sehat

Allah Subhanahu wa Ta'ala melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita dengan jumlah yang melimpah. Berkat hal itu, kita dapat menjalankan aktivitas hidup dengan lebih baik. Bahkan jika kita persembahkan seluruh waktu yang ada untuk bersyukur atas sebuah karunia-Nya, rasanya tidak akan cukup. Bahkan lagi, kita tidak sanggup mengkalkulasi secara matematis Kemahamurahan Allah SWT. atas karunia ini.

Satu di antara bentuk karunia terbesar adalah kesehatan. Terkait dengan ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang badannya sehat dan hidup aman di tengah masyarakatnya serta memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia seisinya telah diberikan kepadanya." (Riwayat At-Tirmidzi)

Dalam Hadits yang lain disebutkan : "Nikmat pertama yang ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat yaitu apabila ditanyakan kepadanya, Tidakkah telah Kami sehatkan badanmu dan telah Kami segarkan (kenyangkan) kamu dengan air yang dingin." (Riwayat At-Tirmidzi)

Kesehatan merupakan nikmat yang istimewa dan salah satu dari nikmat terbesar, setelah nikmat Iman dan Islam. Nikmat itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban di depan mahkamah Kemahakuasaan Allah Azza wa Jalla. Rasulullah SAW. bersabda, "Memohonlah kepada Allah kesehatan (keselamatan). Sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (keselamat an)." (Riwayat Ibnu Majah)

Beliau menambahkan. "Jika salah seorang keturunan Adam hanya memiliki keislaman dan kesehatannya, maka hal itu sudah cukup bagi dirinya."

Satu lagi Hadits yang masyhur di telinga kita menjelaskan, "Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya lima perkara; muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati." (Riwayat Muslim)

Sehat (al-shihah), dalam Islam bukan hanya merupakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah fisik (jasmani), melainkan juga menyangkut masalah psikis (jiwa). Inilah yang kemudian dikenal dengan konsep al-Shihhah wa al-afiyat atau yang lebih akrab dengan sebutan: sehat wal'afiat.

Maksud dari konsep itu adalah suatu kondisi sehat dimana seseorang mengalami kesehatan yang paripurna: sehat jasmani, dan ruhani atau fisik dan psikis.

Jika makna sehat lebih berhubungan dengan masalah fisik-ragawi, makna al-afiat ialah segala bentuk perlindungan Allah SWT. untuk hamba-Nya dari segala macam tipu daya.

Itulah sebabnya kita diajarkan untuk senantiasa membaca wirid pagi dan petang dan memohon limpahan kesehatan dan keselamatan dari berbagai macam tipu daya. Selagi kita mengarungi kehidupan, tidak mustahil muncul gangguan dan tipu daya dari golongan jin dan manusia yang bisa menghadirkan kejahatan dan keburukan. "Ya Allah sehatkanlah badanku, ya Allah sehatkanlah badanku, ya Allah sehatkanlah penglihatanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau."

Sebagai bentuk syukur nikmat atas karunia sehat ini kita diperintahkan untuk senantiasa menjaga dan memelihara kesehatan fisik maupun psikis serta mental-spritual kita sebagaimana yang diajarkan Rasulullah.

Guru terbaik dalam masalah keteladanan dalam memelihara kesehatan tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah adalah "guru besar" para "dokter", yang mendapat didikan langsung dari Allah SWT. Beliau bersabda, "Aku telah mendapatkan pendidikan dengan pendidikan terbaik dari Tuhanku."

Konsep tentang Sakit

Sebagai seorang Mukmin, kita dianjurkan untuk memohon limpahan kesehatan. Namun jika Allah Subhanahu wa ta'ala menakdirkan sakit, kita pun dianjurkan menerimanya dengan sikap sabar, rela dan syukur.

Sakit merupakan sunnah kauniyyah (takdir) yang diciptakan oleh Allah SWT. untuk hamba-hamba-Nya yang di dalamnya musibah dan ujian. Allah SWT. menghendaki kebaikan bagi kaum Mukmin yang ditimpa musibah atau penyakit.

Termasuk keutamaan Allah SWT. yang diberikan kepada kaum Mukminin adalah Dia menjadikan sakit sebagai penghapus dosa dan kesalahan mereka. Sebagaimana tersebut dalam Hadits Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah Shallallahu 'alai wassalam bersabda : "Tidaklah seorang Muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana daun-daunnya." (Riwayat Bukhari Muslim)

Dari Jabir yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Panas badan (demam) akan menghilangkan kesalahan-kesalahan manusia sebagaimana ububan (alat peniup api) melunakkan besi." (Riwayat Muslim)

Orang yang ditimpa penyakit bukan berarti orang yang hina, sebagaimana orang yang dianugerahi sehat bukan serta merta adalah orang yang mulia. Dua kondisi tersebut sama-sama mengandung hikmah tertentu di sisi Allah Ta'ala. Itulah sebabnya begitu banyak Hadist yang menyebutkan keistimewaan orang yang sedang ditimpa sakit.

"Tidak ada yang menimpa seorang Muslim dari kepenatan, sakit yang berkesinambungan (sakit kronis), kebimbangan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, sampai duri yang tertusuk karenanya, kecuali dengan itu Allah hapus dosanya," (Riwayat Bukhari)

Allah SWT. berfirman, "Sesungguhnya Aku jika memberi cobaan kepada salah seorang hamba-Ku yang Mukmin, kemudian ia bersyukur kepada-Ku terhadap apa yang aku timpakan kepadanya, maka (saat) ia bangun dari tidurnya, (itu) sebagaimana hari saat ia dilahirkan oleh ibunya tanpa dosa-dosa.' Lalu Ar-Rabb berfirman, 'Aku telah mengikat hamba-Ku dan telah Aku uji, maka berikanlah (oleh kamu sekalian para malaikat) pahala kepadanya, sebagaimana kamu sekalian memberikan pahala kepadanya pada saat ia dalam keadaan sehat." (Riwayat Ahmad).

Masih terkait dengan keutamaan orang sakit di mata Allah Ta'ala, Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada sama sekali yang menimpa urat seorang Mukmin kecuali Allah tetapkan baginya kebaikan, dan Allah angkat derajat untuknya." (Riwayat At-Thabrani).

Kemudian yang tak kalah penting, seorang Muslim yang sedang sakit mendapat keistimewaan berupa lebih mustajabnya doa dia dibandingkan ketika sedang sehat, sebagaimana keterangan Rasulullah: "Jika kamu menjenguk orang sakit, mintalah kepadanya agar dia berdoa kepada Allah untukmu, karena doa orang yang sakit seperti doa para Malaikat." (Riwayat As-Syuyuthi).

Karena itu, perbanyaklah doa yang belum dikabulkan ketika dipanjatkan saat sehat, dan baru dikabulkan ketika kita sedang sakit. Wallahu a'lam bis-shawab.* (M Ali Athwa/Suara Hidayahtullah).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LIMA PERBEDAAN ANTARA OBAT DAN SUPLEMEN

Obat dan suplemen bisa memiliki bentuk yang sama: pil, kapsul, atau tablet. Namun kita tidak bisa menyamakan keduanya, menganggap bahwa keduanya adalah pilihan tepat untuk dikonsumsi saat kita sakit. Beberapa suplemen, termasuk keluaran-keluaran High-Desert, memang bisa dikonsumsi dalam keadaan sakit maupun sehat, tetapi perbedaan antara obat dan suplemen cukup kentara. Berikut ini adalah enam perbedaan antara obat dan suplemen. 1. Obat dari Bahan Kimia, Suplemen dari Bahan Alami Pertama, sekaligus yang utama, kita perlu mengetahui asal dan bahan-bahan dari segala sesuatu yang masuk ke tubuh kita. Pada konteks ini, perbedaan antara obat dan suplemen terletak di bahan keduanya. Obat dibentuk dari bahan-bahan sintetik yang diolah dan diuji coba di laboratorium. Meskipun suplemen juga melalui proses uji coba laboratorium, semua bahan yang membentuk suplemen berasal dari alam. 2. Obat untuk Orang Sakit, Suplemen untuk Siapa Saja Kita tidak bisa meminum obat saat tubuh kita bai...

Keseimbangan Sistem dalam Tubuh

Dalam tubuh manusi terdapat 5 (lima) kelompok organ yang saling bertalian dalam satu siklus kehidupan. Gambar dibawah telah diakui oleh dunia kedokteran Barat karena beberapa kelompok penyakit tertentu yang menyangkut kelima pokok tersebut diatas sering bersifat fatal. Sebab itu sampai saat ini masih terus mencari bagaimana carang agar kelima kelompok kehidupan ini senantiasa selalu dalam keadaam seimbang, sehingga tercapai suatu kondisi "Fisik" yang optimal sepanjang masa. Bicara masalah makanan kesehatan yang konon dapat menjaga kesimbangan dari siklus ke lima pokok kehidupan tadi sudah dikenal sejak dahulu yaitu yang kita sebut "JAMU" di Indonesia. Di dalam dunia kedokteran, jamu dikenal ada, tetapi bukan sebagai hal yang penting, seperti apa yang terjadi di masyarakat kuno, selain khasiatnya pun juga belum dapat dibuktikan secara ilmiah, hanya berdasarkan turun temurun dan menurut kepercayaan nenk moyang zaman tersebut.

VITAMIN C

Awal Maret 2020, Indonesia mengalami kasus Virus Corona seperti dialami Negara lainnya. Berbagai cara warga menjaga diri agar tidak tertular Virus Covid-19. Dari menggunakan masker, hand sanitizer (jika tidak memungkinkan untuk cuci tangan menggunakan), meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi vitamin C. Mari mengenal lebih dalam apa itu vitamin C. Berapa yang dibutuhkan oleh tubuh? Apakah aman mengkonsunsi vitamin C dalam jangka panjang? Ascorbic acid  atau v itamin C  adalah   nutrisi   pembentuk kolagen, yaitu zat  yang  dibutuhkan untuk memperbaiki  kulit ,  tulang,  dan   gigi. Vitamin C bisa diperoleh secara alami dari buah dan sayur. Vitamin C alami bisa diperoleh dari berbagai jenis buah dan sayur, seperti jeruk, stroberi, cabai, brokoli, dan kentang. Meski demikian, tubuh bisa kekurangan vitamin C. Kondisi ini berisiko terjadi pada orang yang sering mengonsumsi minuman beralkohol, perokok, dan pengguna NAPZA....